Jumat, Mei 25, 2012

Bercinta, secara tidak ilmiah


Cinta itu, sayang, percaya, atau nyaman?


Itu adalah pertanyaan yang tiba-tiba saja diajukan kepada saya, di suatu malam dimana hujan sedang mengamuk dan atap kosan yang terbuat dari asbes berderit-derit mengharukan. Lihat, bahkan alam pun mendukung pembicaraan cinta ini. Benar, cinta itu mengharukan. Membicarakan cinta, seperi membicarakan udara. Tidak akan berhenti sampai manusia mati dan tidak lagi membutuhkan udara. Tidak bisa menyalahkan juga, jika lagu-lagu dan novel-novel banyak yang membicarakan tentang cinta, karena cinta adalah tema yang tidak pernah terpatok era ataupun wilayah. Mungkin cinta itu trasenden, terlepas dari kategori 'space' and 'time'. Sebelumnya, mari kita perjelas dahulu, bahwa walaupun memasukkan unsur-unsur ilmiah, namun tulisan ini tetap tidak bisa diterakan metode verivikasi ataupun falsifikasi. Ini memang bukan tulisan ilmiah. Semi ilmiah pun bukan. Ini hanya sekedar refleksi atas kejenuhan mengerjakan tugas, yang mengundang kegalauan. Seorang teman pernah berkata, bahwa kegalauan adalah sumber kreativitas. Bukankah itu juga yang membuat para filosof eksistensialis mendadak terkenal dan masuk ke dalam berbagai buku sejarah? Mari berpikir ulang bagi mereka-mereka yang selalu menerakan makna peyoratif pada kata galau. Namun, mari sejenak kita melupakan logika, karena pembicaraan ini tentang cinta, maka saya akan mendukung sebuah frasa yang saya buat sendiri, namun sangat-sangat terinspirasi oleh Nietzsche
'Rasionalitas sedang pingsan, saatnya Irrasionalitas berjaya!'
Baik, ini memang sebuah pembelaan atas sebuah karya yang belum pasti. Lalu kenapa?


Baiklah, sebelum melebar kemana-mana, mari kita 'bercinta' secara tidak ilmiah. 

Cinta  terlepas dari kategori 'Space' dan 'Time' , kenapa? Karena saya setuju dengan pendapat Gabriel Marcel, bahwa cinta itu dasarnya adalah fidelity. Dalam cinta, kehadiran secara harafiah tidak lagi diperlukan, ketika perjumpaan telah dilewati, maka kedua subyek dalah cinta itu telag menghadirkan dirinya kepada subyek yang lain dengan cara yang berlainan. Cinta mengatasi dunia, karena sifatnya yang membangkitkan. Seseorang mencintai yang sudah mati, itu bukan sesuatu yang patut dipertanyakan. Seseorang mencintai orang yang tidak pernah ditemuinya di dunia nyata selain di layar laptop atau di siaran-siaran televisi, itu juga tidak perlu dipertanyakan. Bukankah sudah jelas? Fidelity atau kesetiaan subyek akan subyek lain, adalah sebuah jaminan atau labirin kehidupan bagi cinta. Ketika subyek I mempertahankan cintanya untuk subyek II yang sudah mati, bukankah cinta telah mengatasi dunia? Tidak ada harapan yang diharapkan oleh si Subyek I atas Subyek II yang sifatnya materi.

Oke oke, pembicaraan tentang cinta yang mengatasi dunia dan waktu ini memang sedikit utopis. Karena Sartre mengatakan bahwa karena pada dasarnya Subyek I adalah predator bagi Subyek II, dan keduanya slaing mengobyekan, maka suatu cinta yang tulus tanpa harapan apapun, yang saling memandang antara subyek dengan subyek, bukan subyek dengan obyek, adalah tidak mungkin. Namun apa salahnya mengharap-harap sesuatu yang utopis? Justru karena utopis itulah dia menjadi diharapkan. Bukankah manusia memang suka mengharapkan yang tidak mungkin? Namun selama manusia masih mampu memikirkannya, adakah yang tidak mungkin itu?

Semakin melebar, baiklah. 

Jadi, cinta itu nyaman, sayang, atau percaya?

Jawaban saya: Bukan ketiganya. 

Jika cinta itu adalah  nyaman, maka tujuannya bisa begitu melebar. Perasaan nyaman, bisa terjadi karena faktor apa saja juga kepada siapa saja. Kenyamanan ini begitu terbatas pada kategori space and time. Saya bisa merasa nyaman TIDAK HANYA dengan orang yang saya cintai, tetapi dengan siapapun yang saya SUKAI. Saya nyaman bicara dengan orang yang mengerti dengan apa yang saya bicarakan, saya nyaman berada di samping orang yang seleranya sama, saya nyaman berada di dekat orang yang ramah dan humoris, saya nyaman berada bersama SIAPAPUN asalkan suasana hati saya sedang bagus. Namun saya juga bisa merasa TIDAK NYAMAN dengan SIAPAPUN saat suasana hati saya sedang tidak menyenangkan. 

Jika cinta itu sayang,... bukan. Cinta bukan sayang. Ini memang menyalahi hukum logika nomor sekian, dengan mengatakan bahwa cinta bukan sayang tanpa bisa menjelaskan alasannya. Tidak ada alasan, hanya saja saya merasa sayang berada setingkat di atas cinta. Mungkin sayang itu analog dengan cinta platonis, dimana tidak ada keingin untuk memiliki. Tapi yang paling penting, sayang bisa kepada siapa saja. Entahlah, saya sedang bicara apa. Tapi cinta itu bukan sayang.

Nah, jika cinta itu percaya, apa gunanya Descartes mengagung-agungkan rasio manusia sebagai yang paling utama? Karena bukankah cinta itu sendiri tidak selalu percaya? Jika Subyek I selalu percaya dengan Subyek II atau sebaliknya, maka dimana rasio subyek I? Itu bukan cinta, tetapi sekedar ketergantungan yang mungkin dalam istilah Sartre disebut dengan Bad Faith. Ketika cinta itu adalah percaya, maka cinta tidak bisa lagi didiskusikan. Inilah yang membuatnya, menurut Habermas, menjadi rawan distorsi. Cinta itu melibatkan dua Subyek, yang masing-masing memiliki rasio, yang pastinya berbeda. Percaya, secara tidak tertulis bisa menghancurkan dua rasio itu sendiri. Dan pikirkan hal ini, pengkaitan cinta dengan percaya, bukankah menutupi makna dibaliknya, bahwa Subyek yang menyerahkan kepercayaannya kepada subyek yang dicintainya itu, sebenarnya sedang mencoba berlari dari ketakutannya sendiri, mencoba menghindari kemungkinan terburuk yang sebenarnya telah dia pikirkan. Dengan dalih 'percaya' ia mencoba membuang segala ketakutan-ketakutannya, karena apabila ketakutan itu terjadi maka dia akan kehilangan pegangan. Maka selama ia masih membutuhkan cinta itu, maka selama itulah topeng percaya sedang ia kenakan.
Tapi tidak seperti itu. Cinta itu bukan sekedar percaya, cinta itu harus dipertanyakan.


Lalu cinta itu apa? 


Cinta itu sifatnya sintetis apriori. Konsep cinta ada di dalam kepala manusia sejak zaman Yunani kuno hingga abad kontemporer, namun cinta baru akan terepresentasikan ketika bertemu dengan obyek di dunia nyata. Cinta hanya akan menjadi konsep yang mengawang-ngawang di rasio individu sebelum individu itu menemukan individu lain yang bisa merepresentasikan 'konsep' cinta itu. 


Disinilah masalahnya. Menurut saya pribadi, cinta itu kalau dalam kamus Immanuel Kant sifatnya Das Ding An Sich. Apa itu cinta yang sebenarnya tidak bisa diketahui, karena setiap kaca mata merah yang melihatnya, melihatnya secara berbeda. Cinta adalah nomena, dan yang kita diskusikan berparagraf-paragfar di atas tadi hanya sekedar fenomena. Setiap rasio yang mampu bicara, berhak mengatakan apapun tentang cinta. Definisi tentang cinta, tidak bisa dibekukan dalam kamus besar bahasa Indonesia atau kamus besar Oxford. Definisi tentang cinta telah ada di dalam rasio manusia, seperti ide bawaan, yang artinya tidak selalu sama. Tidak ada definisi tentang cinta yang salah, karena cinta itu Das Ding An Sich.

Saya pribadi, yah, karena cinta itu das ding an sich, dan konsep cinta dalam kepala saya belum bertemu dengan representasinya, maka saya tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana: Cinta Itu Apa?

Dan saya juga belum yakin, bahwa cinta itu ada ataukah hanya sekedar mimpi-mimpi utopis yang sifatnya kolektif. Saya juga tidak tahu apakah cinta itu benar-benar ada ataukah hanya sekedar bahasa penghalus dari hasrat menguasai seperti yang dikatakan oleh Nietzsche.

Namun kali ini untuk menyenangkan para penyair, saya memilih mengatakan: Biar waktu yang menjawabnya.





Semalam aku bertemu peri. Kecil sekali. Mungkin hanya sebesar jari kelingkingmu. Rambutnya berwarna perak, beriap-riap menutupi sebagian wajahnya, dipermainkan angin yang entah berasa darimana. Tubuhnya mungil, dengan sepasang sayap kecil yang mencuat dari balik punggungnya. Walau dia kecil, tentulah aku masih bisa melihat dengan jelas perawakannya. Dibalut sebuah gaun berwarna hijau keemasan sebatas lutut menampakkan kulitnya yang terang benderang seperti disorot lampu yang juga entah berasal dari mana. Namun jangan membayangkan wajahnya cantik jelita. Wajah itu adalah wajah terburuk yang pernah kutemui. Matanya menyipit bagai mata ular, tidak berwarna hitam tapi kuning. Hidungnya mungil dan meruncing seperti jarum di ujungnya. Bibirnya seperti moncong, mengeluarkan suara-suara yang mengerikan. Dan percayakah kau, ada sepasang tanduk menyala di kepalanya, menyembul dari balik rambut indah keperakannya. Sayapnya yang dari jauh terlihat indah berwarna-warni, sebenarnya malah bolong-nolong. Seperti bekas terbakar.
Sayangku, aku baru tahu bahwa peri tidak secantik seperti yang sering di gambarkan dalam dongeng-dongeng. Namun aku yakin yang kutemui semalam adalah peri. Kenapa aku bisa yakin? Karena dia sendiri yang menyebut dirinya peri. Aku tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. Sudahlah, kali ini aku ingin mempercayainya. Begitu saja.
Peri buruk rupa itu turun dari langit yang mendung lalu menempel di kaca jendela kamarku. Hidungnya yang runcing seperti bengkok ketika menekan permukaan kaca. Mulutnya mengoceh, menggumankan entah apa. Lalu tanpa permisi dia masuk ke dalam kamar melalui jendela yang terbukan sedikit, dan melayang tiga puluh senti dari ujung hidungku. Aku nyaris menyebutnya hantu kalau dia tidak segera memperkenalkan dirinya sebagai peri. Bagaimana aku bisa mengerti bahasanya? Entahlah. Mungkin aku mengerti secara begitu saja. Terkadang kita mengetahui sesuatu tanpa kesadaran bukan?
Peri itu, walaupun buruk rupa, tetapi tidak berniat jahat kepadaku, sayang, jangan khawatir. Dia hanya ingin mengajukan pertanyaan, begitu katanya. Meski terheran-heran, aku mengangguk juga dan mempersilahkan dia mengajukan pertanyaannya. Bisakah kau menduga-duga pertanyaan macam apa yang akan diajukan seorang peri yang datang jauh-jauh dari negerinya, entah apa namanya aku tidak bisa mengejanya, malam-malam, menabrak jendela kamar hingga hidungnya bengkok, kepadaku? Aku sama sekali tidak bisa menduganya.
Sebelum bertanya, peri itu melantunkan sesuatu yang terdengar seperti lagu. Suaranya menyayat, melengking sedih sampai aku khawatir orang-orang di luar kamarku akan mendengarnya. Namun peri itu tidak tampak cemas.
Lalu dengan matanya yang hanya seperti garis berwarna kuning dia menatapku. Kelihatan seperti sedang menyipit, walau tampak sama saja. Mungkin dia sedang mempertimbangkan ulang apakah aku cukup bisa dipercaya, untuk mendengarkan kata-katanya atau tidak. Aku sedikit berharap dia tidak mempercayaiku. Sebenarnya, aku kurang mempercayai diriku sendiri.
Lalu apa yang terjadi setelah dia menyanyi dan mempertimbangkan ulang kapabilitasku sebagai narasumber pertanyaannya? Dia menangis, sayang. Benar, dia menangis. Air matanya berupa titik-titik perak berkilauan menuruni pipinya yang mungil, lalu jatuh mengenau ujung kakiku. Namun aku tidak merasakan apa-apa, karena air mata itu terlampau kecil untuk bisa kurasakan.
Aku bertanya mengapa dia menangis, tetapi dia malah menghardikku galak. ‘Kau pikir kau tahu siapa dirimu, manusia?!’ Dengan jarinya yang runcing dia menuding tepat di depan mataku. Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Tentu saja aku tahu siapa diriku. Pertanyaan macam apa itu?
Dia buru-buru menggoyangkan tangannya ketika aku menjawab bahwa aku tahu siapa diriku.
‘Tahukah kau darimana asalmu? Untuk apa kau ada di dunia ini? Dan apa yang kau cari di dunia ini? Dan apa yang akan terjadi dua menit ke depan? Dan kapan kau akan mati serta dengan cara apa? Pernahkah kau bertanya-tanya kenapa kau dilahirkan? Pernahkan kau mencoba menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini? Tidak, tidak. Kau tidak pernah, manusia. Kau hanya menjalani hidup sebagai rutinitas tanpa pernah mengetahui apa maknanya. Benar kan yang kukatakan? Ah ya, tentu saja. Apa yang bisa kuharapkan dari manusia?’
Lalu dia mendengus keras, merentangkan sayapnya, lalu melesat terbang keluar jendela, meninggalkanku yang masih duduk bersila seperti sebelumnya, mencoba memahami pertanyaan-pertanyaan yang baru saja kuterima.
Sayangku, kurasa kau benar, aku sudah mulai gila.

Selasa, April 24, 2012

Tanya (2)

Kutanyakan jawaban pada lembar terakhir.
Namun dia hanya menjawab: Hari sudah terlampau malam

Sementara pengindraan masih menari

Menari...

Menari...



hingga senyap membunuhnya

Senin, April 16, 2012

Tanya

Bukankah kita akan bertemu pada suatu senja yang mungkin saja tak terencana? Jawab saja 'Ya', maka tak lagi kuganggu pagimu.

Lalu, apa lagi yang Dia tunggu?

Jumat, Maret 02, 2012

Jengah

Berikan aku satu jari untuk kugenggam, dan akan kuajarkan bagaimana ke medan perang tanpa senjata. Tak ada lagi rasa takut dan gelisah. Terlalu tinggi kah harapan yang kubangun? Ataukah semua itu hanya tipu muslihat dalam sebuah sandiwara? Atau hanya sebuah nafas yang ditiupkan saat keletihan mencapai kejayaannya? Seperti pasungan untuk terus bermimpi saat matahari mulai membakar diri. Aku hanya ingin satu jari, sebab nafas ini telah kembang kempis dan tubuh ini mulai limbung. Aku sudah jengah menunggu. Lalu kepada siapa retakan kaca ini akan kubagi? Jika pintu tiada lekas ditemui? Sementara senja tinggal sepenggalah. Dan bekal airnya tinggal setengah. Aku sudah jengah.

Depok, 02/03/12

Minggu, Februari 26, 2012

Diatas Normal

Halo sayang, bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja. Aku merindukanmu, tau?
Ah ya, maaf untuk basa-basi ini, yang hanya peralihan dari ungkapan bersalah karena terlalu lama menelantarkanmu. Tapi aku yakin kau pasti sudah paham. Dunia ini memang perlu basa-basi untuk mencairkan segala kekakuannya. Kau tidak setuju aku menyebut dunia ini kaku? Itu hak mu. Tapi coba bayangkan sebuah dunia tanpa basa-basi? Dimana orang berlari cepat, tidak menoleh kemanapun selain tempat yang menjadi tujuannya. Lalu keapatisan meningkat, membuat moral semakin tergadaikan oleh waktu. Astaga. Bukan maksudku menyalahkan waktu. Tapi itu benar bukan? Semakin lama ‘basa-basi’ semakin menjadi lagu lama. Dan siapa yang bisa disalahkan atas kepunahannya selain waktu? Tidak bagus memang mencari sesuatu untuk kambing hitam. Tapi menyenangkan sekali, punya sesuatu yang masih bisa disalahkan.
Ah sudahlah, basa-basi ini kita tutup sampai disini saja.
Aku ingin bercerita.
Sore ini aku baru saja menyelesaikan novel ‘Joker’ karya Valiant Budi. Yeah, itu novel ringan yang lain. Cukup segar untuk mengisi waktu liburku yang terlalu panjang. Tapi ada sebuah kalimat yang menendang dalam novel itu. Sebuah pertanyaan yang hingga kini aku masih memusingkannya padahal aku sudah beranjak membaca novel yang lain.

‘Apa sih patokannya orang normal?’
Itu dia pertanyaan yang menendang itu.
Benar juga. Di dunia yang serba cepat ini, dimana basa-basi tidak lagi menjadi sesuatu yang seru, patokan orang menjadi ‘normal’ memang perlu dipertanyakan. Memangnya apa definisinya ‘orang normal’? Terlebih lagi, apa itu ‘normal’?. Ketika aku menanyakan ini di sebuah situs jejaring social, seorang sahabatku menjawab bahwa orang normal adalah orang yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Lalu apa patokan dari ‘pada tempatnya’ itu, sayangku?
Ada sebuah sumber yang menyatakan norma, berarti menurut pada aturan umum. Wow! Kata umum itu menakjubkan bukan? Dari definisi di atas, bagaimana jika kita menarik suatu definisi, bahwa orang normal adalah orang yang mengikuti pola umum. Alias manusia pada kebanyakan. Sedangkan orang yang tidak mengikuti pola umum adalah orang yang tidak normal. Alias menyimpang. Namun, jika ada seseorang yang berbeda, yang tidak seperti orang kebanyakan, apakah secara otomatis masuk dalam kategori ‘orang tidak normal’? Misalnya saja, banyak perempuan yang menyukai warna pink, tapi aku justru membencinya, apakah aku tidak normal, sayang? Lalu jika banyak pejabat yang korupsi, dan ada seorang pejabat yang kebetulan memutuskan untuk hidup bersih, apakah pejabat bersih ini juga tidak normal, sayang?
Dari sini, aku melihat bahwa normal berhubungan orang dengan kebiasaan. Apa yang sesuai dengan kebiasaan, itulah yang disebut normal. Pantas saja Copernicus dan Galileo Galilei dianggap gila ketika mengumumkan bahwa mataharilah yang menjadi pusat tata surya. Bagi masyarakat zaman dulu yang terbiasa dengan ‘Bumi sebagai pusat tata surya’, pastilah dua orang itu dianggap mengada-ada. Dan tidak normal. 
Lalu aku ingat, tentang ramalan Soren Kierkegaard, bahwa akan ada suatu zaman dimana yang berlaku, yang benar, dan otomatis adalah sesuatu yang berlaku bagi orang banyak. Kierkegaard menyebutnya dengan era massivikasi. Sesuatu yang subyektif tidak lagi benar, dan obyektifitas semu mengalami era kejayaannya. Mungkin era ini lah yang diramalkan oleh Soren Kierkegaard. Maka, sayangku, berhati-hatilah, jangan menolak apa yang banyak disukai orang dan jangan menyukai apa yang tidak disukai oleh kebanyakan orang kalau kau tidak ingin di cap tidak normal.
Dan pertanyaannya sekarang, apakah yang ‘tidak normal’ itu bersifat kekal seperti enerji, sayang? Dan apakah apa yang ‘normal’ selalu benar?
Kuberitahukan padamu, ini adalah sebuah catatan yang belum selesai, jadi tak perlu kau risaukan. Ini jug hanya sebuah racauan seperti biasa, bukan jurnal ilmiah untuk syarat kelulusan.

Rabu, Desember 28, 2011

Colaps

Tuangkan anggur dari gelasmu, untuk membasuh kegelisahan malam ini. Pada malas, yang tak pernah kupikirkan. Pada serpih roti yang kupikir akan mengenyangkan. Pada muara, yang tak tahu kemana arahnya. Berikan satu pena, maka akan kutuliskan pesan singkat tentang takdir Tuhan. Adakah jeda tersisa untuk nama yang sama?

Sabtu, Desember 24, 2011

"Hidup itu memang menyedihkan dan serius. Kita dibiarkan memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain disini, saling menyapa, dan berkelana bersama untuk sejenak. Lalu kita saling kehilangan dan lenyap dengan cara yang sama mendadaknya dan sama tidak masuk akalnya seperti ketika kita datang"
-Alberto Knox-

Selasa, Desember 20, 2011

Candu

Kedua alismu terangkat bertanya, sementara kedua matamu menatap tegas kepadaku. Aku, dengan gerakan yang sangat-sangat kaku, mungkin lebih kaku daripada robot, menganggukan kepala, dan membiarkanmu duduk di sebelahku. Tidak terlalu dekat. Mungkin ada jarak dua kepalan tangan yang memisahkan tubuh kita. Namun, kepada siapa aku akan menyalahkan jika hatiku berdebar tak terkendali? Berdetam-detam sampai telingaku terasa tuli? Bahkan suara benturan-benturan batu di bangunan yang sedang dalam proses di belakang kita tidak terdengar sejelas debaran hatiku.
Ada satu pertanyaan yang menggangguku saat ini, apakah kau tau, berapa lama aku memimpikan saat-saat seperti ini? Saat kau duduk di sebelahku. Walau tidak saling bicara tidak apa-apa, alunan nafasmu yang menandakan kehidupanmu yang berada begitu dekat denganku itu sudah menjadi komunikasi aneh diantara kita. Ah, bukan kita. Mungkin aku saja.
Jutaan kali aku melihatmu. Melintas begitu saja di depanku, meninggalkan debaran-debaran aneh yang tak bisa kuterjemahkan kepada yang lain. Jangankan kepada mereka, kepada diriku saja aku masih belum bisa memahaminya dengan pasti. Mungkin kau tak pernah sadar bahwa ada sepasang mata yang senantiasa mengikuti orbit lintasanmu. Bahwa ada sepotong hati yang berharap bisa memahamimu lebih jauh lagi. Dan bahwa ada ribuan kata-kata yang ingin kuungkapkan kepadamu. Yah, setiap kali kau melintas di depanku.
Apa kabarmu hari ini?
Sudah sarapan kan?
Hari ini sarapan dengan apa?
Hari ini mau pergi kemana?
Apa rencana kegiatan hari ini?
Itu hanya sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu sejak bertahun-tahun lalu. Melihatmu melintas di depanku, dan memendam pertanyaan-pertanyaan ini, sudah seperti rutinitasku entah sejak kapan. Yang pasti sudah lama sekali. Menemukanmu dalam orbit mataku sudah menjadi candu bagiku. 
Aku selalu mengandaikan bahwa suatu saat Tuhan akan memberikan kesempatan itu kepadaku. Apalagi? Tentu kesempatan untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu kepadamu. Kepada makhluk-Nya, yang Dia ciptakan terlampau sempurna.
Dan benar sekali bukan? Saat itu akhirnya datang juga. Setelah bertahun-tahun aku menunggu, akhirnya kau datang. Menatapku dengan alis terangkat, dan menanyakan apa aku boleh duduk di sebelahmu. Ah, tentu saja. Tempat di sebelahku selalu kubiarkan kosong, memang karena aku menunggumu duduk disana.
Tapi masalahnya adalah, kenapa Tuhan tidak mengatakan kemungkinan tentang hilangnya semua kosa kataku saat kau duduk di sampingku? Ini yang meleset dari pikiranku. Menggelikan, ya. Menyebalkan, tentu. Anti klimask, pastinya. Daftar pertanyaanku yang mungkin bisa dijilid dan diterbitkan menjadi sebuah novel, mendadak lenyap tanpa penjelasan apa-apa. Aku ditinggalkan dalam kebingungan. Aku bisu. Mendadak.
Ketika aku berusaha melepaskan diri dari segala keanehan ini dan mulai melontarkan huruf pertama dari kata ‘Halo’, ternyata Tuhan marah padaku karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang Dia berikan untukku. Kau bangkit dari dudukmu dengan ponsel di telinga. Sebuah senyuman kecil kau lempar kepadaku, mungkin sebagai pengganti kalimat ‘Terimakasih atas tempat duduknya’ atau kalimat ‘Permisi ya’. Lalu kaupun pergi dengan ponsel yang masih di telingaku.
Aku menelan ludah. Semarah inikah Tuhan kepadaku? Kenapa Tuhan tidak memberikan waktu sedikit lebih lama lagi padaku? Padahal aku sudah akan memulai mengatakan ‘Halo’? Tapi kenapa aku juga harus menyalahkan Tuhan? Bukanlah ini semua tidak ada hubungannya dengan Tuhan? Ini hanya masalah aku, kau, dan ketololanku. Tidak yang lain.
Aku kecewa? Sudah pasti. Aku masih belum tahu perasaan apa yang sedang kurasakan ini. Terlalu dini untuk menyebutnya cinta. Tapi terlalu sayang untuk menyebutnya hanya sekedar obsesi. Tapi intinya, aku harus memulai rutinitas harianku lagi. Memandangimu saat kau melintas di hadapanku dan memendam jutaan pertanyaan di dalam mulutku. Dan entah berapa purnama lagi aku harus menunggu untuk kesempatan kedua. Kalau kesempatan kedua itu ada.


Depok, 20 Desember 2011

Jumat, Desember 16, 2011

Logika Kacau

Malam ini aku hanya punya satu pertanyaan untukmu, sayang. Tidak terlalu sulit, kau hanya perlu menggabungkan premis mayor dan permis minornya untuk menjawab pertanyaanku. Simak baik-baik ya, sayangku.

Premis mayor:  Egois adalah sifat dasar manusia 

Premis minor :  Aku benci sifat egois


Lalu apa bisa kubilang bahwa aku benci sifat dasar manusia?
Apa aku benci kemanusiaanku?
Apa aku benci semua manusia?
Apa aku benci bahwa aku adalah seorang manusia?



Mungkin logikaku kacau. Tapi pertanyaannya memang ada empat. Bukan satu. Kau tidak salah lihat.

Kamis, Desember 15, 2011

WINE

Satu lagi malam penuh dengan kegelisahan. Kukira dengan berpikir saja akan membuatku hidup. Ternyata, banyak berpikir itu juga tidak terlalu menguntungkan. Pikiran-pikiran di otakku ini berjejal-jejalan. Mengacau. Aku tau, mungkin jika aku mengatakan kepada orang lain, sayang, mereka tidak akan menangkapnya dengan mudah. Permasalahannya, aku hanya tidak bisa mengungkapkannya dengan baik.
Aku senang menulis. Aku senang menggerakkan tokoh-tokoh dalam tulisan semauku. Aku bisa membuat cerita semauku, dan aku bisa menciptakan takdir bagi tokoh-tokoh dalam tulisanku itu. Seolah semuanya berada dalam kendaliku. Aku bisa membuat semuanya berakhir bahagia. Aku bisa menghapuskan semua masalah dan penderitaan. Aku bisa menciptakan kehidupakn yang luar biasa indah dengan tembok kukuh yang menjaganya dari masalah.
Tapi pernahkah kau berpikir seperti ini, apa bedanya aku dengan tokoh-tokoh dalam ceritaku? Bahkan aku sempat berpikir, bagaimana jika aku ini sebenarnya adalah tokoh dalam ceritaku sendiri? Aku selalu bertanya-tanya, dan berharap, bahwa yang nyata adalah apa yang ada di dalam pikiranku, bukan apa yang aku alami.
Pernahkah kau merasa asing dengan dunia kesehari-harianmu? Merasakan keasingan pada orang-orang yang tadinya akrab denganmu? Merasakan seolah-olah dunia menatapmu aneh, ya, hanya kepadamu? Merasakah semuanya salah dan tidak seharusnya? Aku pernah. Sekarang aku sedang merasakannya. Aku asing dengan sekelilingku, dengan orang-orang terdekatku, dengan benda-benda yang kusentuh, serba salah, dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Perasaan asing ini menyelinap begitu saja menembus pori-pori, seperti proses kapilaritas di dinding. Aku hanya merasa…salah.
Mungkin ini yang disebut problem eksistensialisme. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Sartre, Kierkegaard, Albert Camus, dan orang-orang seperti mereka, atau entahlah. Sebenarnya aku juga tidak bisa menjelaskannya dengan gamblang. Sudah kubilang bukan, aku tidak pandai bicara.
Aku memimpikan kebebasan, walau Sartre mengatakan sejak lahir aku sudah bebas. Bahkan katanya kebebasan adalah sebuah kutukan. Benarkah? Entah. Yang jelas aku tidak merasakan kebebasan itu. Dimana kebebasan, jika orang mulai mencibir jika kau melakukan sesuatu yang lain? Dimana kebebasan jika orang masih mencela apa yang kau pikirkan. Aku bingung dengan makna kebebasan versi Sartre ini, tapi aku mempercayai kalimatnya yang ajaib: Hell is other people. Yakinlah, kau juga akan begitu jika berada di posisiku. Berada di antara orang-orang yang sama dengan mereka yang ada di sekitarku.
Aku bingung bagaimana cara menghadapi dunia. Menghadapi orang-orang. Beberapa saat yang lalu aku mengatakan tentang apa yang ada di kepalaku, mengatakan apa yang kupikirkan, lalu mereka berteriak mencela. Mencibir dan mengatai yang tidak sepantasnya. Padahal aku hanya mengajak mereka berpikir. Berpikir ulang tentang apa yang mereka pikirkan. Apakah mereka tidak melihat cacat dalam pikiran itu? Aku hanya mengingatkan saja, dan itulah tugasku. Lain waktu aku diam. Diam saja seperti batu. Mendengarkan apa yang mereka bicarakan tanpa banyak menyela. Lalu mereka mengataiku apatis. Acuh. Tidak peduli dan egois. Sok penting.
Sebenarnya mereka ingin aku melakukan apa?
Aku iri dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam tulisanku. Dan berharap aku yang ada disana. Lucukah? Bukanlah itu sudah benar, bahkan mungkin aku sudah ada disana? Bukan mustahil jika sebenarnya aku ini adalah salah satu tokoh di salah satu novel penulis best seller. Atau bukan mustahil pula, bahwa sebenarnya aku sedang bermimpi. Mimpi panjang tentang kehidupan di bumi. Dan ketika terbangun nanti, kita andaikan saja, sebenarnya aku ini adalah maklhuk dari galaksi Adromeda, dan kita andaikan saja, galaksi itu adalah galaksi kehidupan bahagia dengan tembok kukuh yang tidak bisa ditempuh oleh masalah. Yah, kita bisa berandai-andai saja. Bermimpi saja. Toh, apa bedanya mimpi dan kenyataan? Sebenarnya, bagaimana kau bisa membedakan yang mana mimpi dan yang mana kenyataan.
Ini dunia yang absurd kan?
Hyper realitas.
Mimpi.
Sebut saja yang lain.
Tak usah kau membaca tulisan ini. Hanya akan membuatmu bingung, dan mengatakan ini adalah sampah. Walau sebenarnya, hanya karena kau tidak suka, atau kau tidak mengerti, tidak lantas kau bisa mengatakan tulisan ini adalah sampah. Yah, aku sendiri, menganggap ini sampah.
Tapi ini dunia yang aneh bukan? Apa bedanya yang sampah dan yang bukan sampah? Itu hanya urusan di dalam kepala kita saja…

Tengah malam yang berat, 15 Desember 2011
00.31 am

Rabu, Desember 07, 2011

Sampah yang BUKAN Sampah


Malam ini, lagi-lagi, aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu, sayang. Jangan bosan, jangan pula buru-buru mengantuk. Simaklah baik-baik, walau ini hanya racauan seperti biasa. Tapi, kenapa pula racauan itu tidak pantas disimak? Terkadang racauan orang-orang di warung kopi jauh lebih berharga untuk disimak daripada pidato politik di layar televise dengan latar gedung pencakar langit. Terkadang racauan para pengamen di stasiun lebih berharga disimak daripada kuliah berjam-berjam di ruangan ber-AC. Bukankah begitu, sayangku?
Hari ini aku sungguh tersinggung, sayang. Ada yang menyinggung sesuatu yang kusukai. Mungkin perasaan tersinggung itu tidak masuk akal, tapi yah, itulah yang terjadi.
Simaklah ceritaku ini, sayangku, lalu berikan komentarmu. Apa yang kau rasakan, saat kau sedang asyik-asyik membaca buku, lalu seseorang datang, melihat buku yang kau baca, kemudian menatapmu dengan pandangan heran, dan berkata dengan nada mencela seolah-olah kamu sedang menggenggam sampah, yang dalam hal ini berarti sedang membaca sampah? Atau, bagaimana jika seorang teman melihatmu bersamaku, dan seseorang itu mengatakan bahwa aku bukan sosok yang pantas untukmu, dan membuatmu terlihat seolah-olah begitu bodoh karena bersama seseorang yang mereka bilang sampah? Atau bagaimana jika ada seseorang membuka file D di komputermu, mengklik folder ‘Movie’ dan berdecak mencela lalu mengatakan bahwa film-film yang kau tonton adalah film sampah? Masih banyak contoh yang lain, sayang, tapi aku tidak akan membuatmu lebih pusing lagi.
Inti dari racauan kegamanganku mala mini adalah itu, sebuah rangkaian huruf yang bila dibaca akan berbunyi ‘Sampah’. S-A-M-P-A-H. Sampah.
Bagaimana cara mendefinisikannya? Sampah, maksudku. Pertama-tama, mari kita pasang atribut-atributnya. Sisa, tidak terpakai, tidak berguna, menjijikkan, kotor, dan sebutkan lagi yang lainnya. Bagaimana jika dari sini aku menyimpulkan bahwa term sampah, berarti sebagai sesuatu yang tidak berguna, yang tidak worthed untuk dikenai suatu tindakan.
Jangan, jangan bosan dahulu. Ceritaku masih panjang. Kalau kau benar-benar mengantuk, sayangku, kau boleh mengambil cangkir dan menyeduh kopi, lalu kembalilah kesini untuk menyimak kelanjutan racauanku. Pokoknya jangan beranjak untuk tidur.
Begini saja, supaya kau tidak bingung dan bosan, aku akan memperkecil ruang lingkup racauanku. Aku akan membicarakan tentang buku saja. Tentang cinta dan film-film itu bisa sepenuhnya kau abaikan.
Mari, kuceritakan sesuatu. Disana, di sudut kamarku, ada sebuah rak kayu dua ruang berwarna biru tua yang berisi benda-benda kesayanganku. Buku. Dan hanya kepadamu saja kuceritakan ya, bahwa buku-buku yang ada disana itu, KEMUNGKINAN akan dianggap ‘sampah’ jika dilihat oleh teman-temanku. Nah, permasalahannya adalah, banyak orang yang menyebut buku yang menurutnya tidak layak dia baca, tidak memberikan manfaat, dan tidak berguna sebagai bacaan sampah. Apa definisi sampah disini, sayang? Masihkah sama dengan definisi yang kusimpulkan sendiri tadi? Entahlah. Intinya adalah, bagaimana seseorang itu mengatakan sesuatu adalah sampah, selama ada orang lain yang mengkonsumsinya sebagai sesuatu yang menarik dan berguna?
Oh, buku yang ‘sampah’ itu memang ada. Menurutku buku-buku yang tidak layak dibaca dan tidak memberikan manfaat apa-apa itu memang ada. Tapi kalau kau teliti sayang, aku memakai kata ‘menurutku’, yang berarti itu hanya berupa sesuatu yang subyektif. Hal yang subyektif itu selamanya tidak akan sama persis antara satu dengan yang lain. Gampangnya begini, kita adalah individu yang berbeda. Tuhan memberi kita rasio yang berbeda-beda, walaupun intinya kita sama-sama punya rasio. Tuhan memberikan kapasitas otak yang berbeda-beda kepada manusia, dan inilah yang menjelaskan mengapa ada anak yang tanpa belajarpun bisa meraih nilai sembilan koma lima sementara anak yang belajar mati-matian hanya mendapatkan nilai tujun koma nol di ujian matematika. Setiap orang punya selera yang berbeda-beda, itu sudah rahasia umum bukan? Jadi salahkah jika aku menarik kesimpulan bahwa Apa yang kau anggap sampah bisa jadi adalah sesuatu yang bagus dan menarik bagi orang lain. Sebaliknya, apa yang kau anggap bagus dan menarik bisa jadi justru adalah sampah bagi orang lain.
Bukankah itu benar? Mari kita runutkan dari awal, dari definisi ‘sampah’ yang kuberikan tadi, sayang. Sampah sebagai sesuatu yang tidak memberikan manfaat apa-apa kepada kita dan apabila kita repot-repot melakukan sesuatu terhadapnya, itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Nah, ini bisa diterapkan pada sebuah buku. Sekedar bocoran, sayang, mari kuberitahukan, bahwa aku adalah seorang pecinta fiksi remaja, sekaligus seorang mahasiswa filsafat. Betapa ironisnya, ya? Aku menyukai buku-buku filosofis yang berat, yang membutuhkan lima kali baca untuk memahami satu paragraph saja, namun disisi lain aku juga menyukai buku-buku fiksi remaja yang MUNGKIN tidak cocok lagi untuk dikonsumsi oleh orang seumuranku, dan MUNGKIN akan dikatakan ‘sampah’ oleh orang-orang sepertiku. Mungkin juga memang benar buku-buku fiksi remaja itu tidak akan memberikan manfaat yang berhubungan dengan pendidikanku. Tapi buku-buku itu, karena aku menyukainya, bisa bermanfaat untuk menyegarkan otakku setelah aku lelah membaca buku-buku lain yang lebih berbobot. Jadi, buku-buku fiksi remaja itu bukan sampah bagiku, walaupun memang ada diantara mereka yang memang sampah. Nah, kau bisa melihat bedanya bukan? Sesuatu yang menurut orang lain adalah sampah, menurutku bukan sampah, karena aku menyukainya, dan aku mampu menangkap manfaat yang sedang dia coba berikan kepadaku. Dan sebaliknya, sayang, buku-buku filsafat yang berat, yang berbobot, yang menurutku seperti keajaiban karena mampu memberikan pencerahan itu, bisa jadi menjadi sampah bagi orang lain yang tidak menyukai filsafat, dan menganggap itu hanya mmebuang-buang waktu saja untuk mempertanyakan eksisitensi kita, atau untuk menjelaskan apa itu ADA sebagai yang ada, yang tiada, dan yang mungkin ada. Semua ini hanya permasalahan selera, sayang. Hanya permasalahan suka atau tidak suka. Tetapi bisakah kita memberikan kesimpulan bahwa orang yang menyukai buku yang berbobot dan berat memiliki selera yang LEBIH TINGGI daripada orang yang menyukai buku-buku ringan dan santai? Otakku tidak bisa membenarkan itu, sayang, karena, yah, apa patokan universalnya tentang tinggi rendahnya sebuah selera?
Ah, kurasa kau mulai bingung disini. Kurasa kau sudah mulai memutuskan untuk meninggalkaku tidur. Baiklah, toh, racauanku juga nyaris selesai.
Yang ingin kukatakan, sayang, walaupun kita menganggap sesuatu itu tidak berguna, menganggap sesuatu itu sebagai sampah, ada baiknya juga jika kita menyimpan pikiran itu di dalam kepala kita sendiri saja. Tidak perlu lah kita membuat semua orang tahu apa tanggapan kita tentang sesuatu yang kita anggap sampah. Simpanlah pikiran itu untuk dirimu sendiri. Karena seperti kata-kataku tadi  Bahwa Apa yang kau anggap sampah bisa jadi adalah sesuatu yang bagus dan menarik bagi orang lain. Sebaliknya, apa yang kau anggap bagus dan menarik bisa jadi justru adalah sampah bagi orang lain. Bukankah tidak ada ruginya jika kita berusaha menjaga perasaan orang lain?
Tulisan ini, mungkin saja akan kau anggap sebagai sampah, sayang. Yah, apalah arti dari sebuah racauan. Tapi sayangku, simpanlah makian ‘sampah banget!’ itu di pikiranmu saja, sayang. Simpan saja. Aku tidak akan pernah ingin mendengarnya. Karena, kau kan juga tahu, aku hanya memintamu mendengarkan racauanku. Itu saja. Kau tak perlu memikirkannya lebih lanjut, jika kau memang tidak mau.

Senin, November 28, 2011

Ecstasy

‘I become through my relation to the Thou, as I become I, I say thou. All real living is meeting.’
-Martin Buber-

Ini adalah sebuah protes. Murni sebuah protes dari sebuah hubungan yang telah berjalan bertahun-tahun. Namun protes kali ini sungguh mengganggu segala nuraniku. Tapi apakah kau menyadarinya? Jika nuraninya tersentak atas protes yang kau ajukan siang tadi? Ataukah kau sudah tidak lagi memikirkannya? Mungkin aku juga seharusnya sudah melupakannya, saat kau memutuskan untuk memaafkanku. Tapi tidak bisa. Protesmu itu masih menggaung, memenuhi ruang di otakku.
Aku harus mati-matian memikirkannya.
‘Kenapa kamu selalu menyuruhku ini itu? Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Memangnya kenapa kalau aku merokok? Memangnya kenapa kalau aku berantakan? Kenapa kamu menyuruhku berhenti melakukan hal-hal yang menjadikan identitasku? Untuk apa kamu bersamaku jika kamu terus-terusan memintaku menjadi orang lain? Siapa yang sebenarnya kamu cintai? Aku? Atau orang lain yang kau suruh aku menjadi?’
Sial. Kata-katamu itu terlalu menusuk. Terlalu kasar, walau setelah kupikirkan, aku tidak tahu bagian mana yang kasar.
Tapi kau benar. Kau sungguh benar, sayang. Ini adalah sebuah parados yang ternyata baru kusadari ketika kau membentak, memprotes, dan menyuruhku berpikir ulang.
Ketika seseorang mencintai orang lain, apa yang sebenarnya Ia lihat? Benarkah Ia melihat Dia yang Ia cintai sebagaimana yang Ia lihat? Ataukah Ia bisa melihat potensi Dia untuk menjadi apa yang Ia mau dengan menawarkan sebuah cinta?
Apakah benar, ada perubahan yang di atas namakan cinta?
Inilah yang sering terjadi di sinetron-sintetron remaja. Dengan cinta seorang preman bisa menjadi santri. Dan atas nama cinta, seorang brengsek bisa menjadi orang baik. Katanya, demi cinta juga, seseorang berubah penampilan. Tapi dengan segala perubahan itu, sayangku, apakah cinta masih ada di tempatnya yang seharusnya?
Dulu ada seorang teman yang mengatakan bawa aku menerima si X menjadi pacarku, mungkin aku bisa mengubahnya menjadi seorang laki-laki yang lebih baikl, yang tidak berandalan, yang tidak suka mabuk-mabukan, dan yang rapi. Ya, memang begitulan si X itu. Jangan cemburu sayang, kejadian itu sudah lama berlalu. Lagipula, aku memang tidak pernah menerima si X.
Kau bertanya mengapa? Bukankah sudah jelas jawabannya. Jika aku menerima si X menjadi kekasihku dengan alasana supaya aku bisa lebih  mengontrolnya, memaksanya merubah diri dengan dalih cinta yang agung, maka sebenarnya aku tidak pernah mencintainya. Aku mencintai sosok yang akan kurubahkan kepadanya, yang sepertinya aku meminta si X menjadi. Lalu kenapa aku harus bersama si X, jika aku aku tidak pernah mencintainya sebagaimana dirinya sendiri?
Kata Martin Buber, hubungan yang seperti itu adalah hubungan I-it. Hubungan dimana aku bisa saja membendakan si X, menjadikannya seperti apa yang aku mau dengan dalih cinta. Kamu tau Martin Buber kan, sayang? Dia adalah seorang filosof cinta, katakan demikian jika lebih mudah. Intinya, aku menyukai konsepnya tentang hubungan antarsubyektifitas. I-it dan I-Thou. I-Thou ini, adalah kebalikan dari I-it. Bukan kebalikan sebenarnya, tetapi adalah tahap kemungkinan metamorofsis sebuah hubungan I-it. Kalau sudah I-Thou, sayang, maka aku tidak akan memintamu menjadi begini, menjadi begitu, harus begini, harus begitu. Bahkan aku tidak akan peduli lagi bagaimana dirimu. Aku tidak bisa menatapnya lagi. Yang kutahu adalah, bahwa aku mencintaimu. Keseluruhan dirimu. Tanpa alasan, tak bisa dijelaskan. Begitu saja.
Bukankah itu indah sekali, sayang?
Maafkan aku khilaf, sayang. Maaf kan tadi aku melarangmu merokok. Maka, atas nama Buber, kupersilahkan kau meneruskan kebiasaanmu itu. Tapi sayang, yang kamu harus tahu adalah, bahwa aku juga mempunyai hak atas paru-paruku sendiri. Aku punya kebebasan untuk menjaga paru-paruku dari asap rokok yang bisa membuat penyakit asmaku kambuh. Jadi bagaimana? Mari kita pikirkan solusinya. Supaya aku tidak mengganggu eksistensimu, dan kamu tidak mengganggu eksistensiku. Supaya dari kita tidak ada yang berubah, tetap sama seperti ketika kita saling jatuh cinta.
Tapi bisakah itu terjadi, sayang? Bisakah kita mempertahankan bagaimana kita, sedangkan dunia terus menggempur kita dari luar. Dunia terus-terusan meminta kita menjadi sesuatu yang lain. Ah, aku sudah mulai keluar dari konteks hubungan kita. Tapi biarlah. Aku sedang ingin berpikir. Aku hanya berharap kau mau mendengarnya, itu saja.
Jadi kembali ke permasalahan tadi. Dunia selalu meminta kita menjadi sesuatu yang lain. Bahkan tidak jarang dunia meminta kita menjadi pembunuh. Bagaimana ini, sayang? Jika kau ingin bertahan dengan rokokmu, sungguh aku tidak keberatan. Tapi bukankah banyak orang lain, yang kebetulan sama sepertiku, terganggu dengan asap rokokmu? Bagaimanapun juga, kebebasan eksistensimu itu dibatasi oleh kebebasan eksistensi orang lain. Begitu kata Jean Paul Sartre. Hell is other people, sayang. Memang sudah takdirnya jika orang lain membuatmu berubah. Bahkan ketika kau ingin mempertahankan dirimu dan tidak menghiraukan pilihan orang lain, tapi kau tidak bisa menghindar dari rasa malu, marah, tertekan, sedih, dan juga cinta. Orang lainlah yang membuatmu bisa merasakan demikian. Maka jangan heran jika banyak orang yang menginginkanmu begini begitu. Mungkin memang itu sudah jalannya. Kebebasan yang kau miliki itu, sekaligus juga ketidakbebasanmu. Ini rumit memang. Aku masih bekerja keras untuk memikirkannya.
Lantas, bagaimana dengan cinta? Mungkin kah ada sebuah hubungan yang tidak mempunyai harapan apa-apa satu sama lain? Mungkinkah jika aku menerimamu begitu saja, bahkan saat asap rokokmu itu menggangguku dan membuatku asma? Dan mungkinkah kau tidak terganggu dengan keadaanku yang sesak nafas, sementara kau tahu sendiri bahwa aku sesak nafas karena rokok yang kau hisap?
Jika orang lain mungkin akan berkata begini: Kalau kau menyayangiku, dan masih ingin bersamaku, maka buanglah benda sialan itu! Aku ingin kita berdua menjadi ornag yang sehat! Bukan ornag yang terancam kanker paru-paru gara-gara rokokmu!
Selintas kalimat itu tampak biasa saja. Tapi aku tidak akan pernah mengatakan itu lagi, sayang. Tidak akan pernah. Aku hanya akan mengatakan bahwa ketika kau berhenti merokok, itu adalah hasil dari kebebasanmu. Itu adalah sebuah tanggung jawabmu kepada dirimu sendiri dan kepada dunia. Aku tidak akan menyuruhmu berhenti merokok lagi. Tidak akan pernah. Mungkin suatu saat nanti, kau akan menyadari bahwa rokok itu buruk, dan berhenti merokok sama sekali. Mungkin suatu saat nanti kau akan bisa membaca harapanku tanpa aku harus bicara. Mungkin suatu saat nanti kau bisa berubah. Tanpa aku harus merubahmu, tapi karena kau ingin merubah dirimu sendiri. Bukan demi aku, tapi demi dirimu sendiri. Begitu juga aku. Namun jika kau memang tidak bisa berubah, aku tidak akan keberatan, sayang. Tidak akan. Karena aku menyadari, kita adalah dua individu yang berbeda. Dua individu yang sebanyak apapun kadar persamaannya, tetap saja kita berbeda. Kita memiliki rasio masing-masing dan cara berpikir masing-masing. Salah jika ada orang yang mengatakan bahwa Cinta menyatukan kita, seperti kata lagu-lagu di radio yang sedang kita dengarkan ini. Selamanya kita adalah dua, tidak akan pernah tereduksi satu. Namun, DUA, juga bukan alasan kita untuk tidak saling bersama bukan? Perbedaan bukan alasan bagi kita untuk saling menjauh dan menyakiti. Bukankah jika segala sesuatu adalah sama, hidup akan terasa membosankan?


Depok, 28 nov 2011

Sabtu, November 26, 2011

Hanya Sebuah Sajak

Bagaimana aku bisa menerjemahkan segala kecemaanku? Bila tak ada lagi kertas kosong dan penaku telah hilang.
Maka segala ketakutan, juga kebahagiaan, tak bisa lagi terlukiskan. tak bisa tertuliskan. Hanya terpasung di kedalaman jiwa.

Aku masih butuh pena. Dan selembar kertas kosong.

Bukankah nurani dan hati tak selamanya berjalan beriringan? Karena berhati tak sama dengan bernurani. Berjiwa, tak selalu bernurani

Lupakan hatimu, maka nurani akan lebih leluasa. 
Jika nurani menang, dan hatimu berserakan, mungkin itulah yang disebut perpisahan. 

Maka kau adalah manusia. Hanya itu yang perlu kau ingat.

Berikan padaku selembar kertas kosong dan sebuah pena yang tak harus hitam. maka akan kuceritakan tentang perpisahan hati dan nurani.

Kepada Ketidakpastian yang pasti


Sudah seminggu berlalu dari hari ketika pengerjaan tugas eksistensialisme tentang Sartre. Tapi konsep tentang faktisitas itu masih saja mengawang-ngawang di kepala.
‘I find myself suddenly alone without help, engaged in a world for which I bear the whole responsibility without being able to tear myself away from this responsibility for an instant.’
Begitu katanya…

Membaca teks ini, rasanya seperti sedang mengangkat batu besar ke atas gunung, dan tidak tau untu apakah batu itu diangkat ke gunung.
Bagaimana rasanya? Jika tiba-tiba kita terlempar di suatu dunia yang tidak kita kenal, dengan segala tanggung jawab yang sudah melekat dalam pundak kita, sementara tidak ada pertolongan untuk kita?
Hidup ini absurd, kata Albert Camus. Hidup ini tidak bisa dijelaskan. Hidup ini tidak bisa dipastikan. Socrates mengatakan, tidak ada yang pasti dalam dunia ini selain ketidak pastian itu sendiri. Lagi-lagi, sedih membacanya. Tapi kalau dipikir-pikir, benar juga.
Lalu, dengan tiba-tibanya terpikirkan rumusan ini, Aksi sama dengan Reaksi. Bagaimana mengatakan bahwa aksa sama dengan reaksi dalam kehidupan yang sungguh absurd ini, wahai Tuan Newton? Apa yang saya dapat, tidak selalu sebanding dengan apa yang saya usahakan. Terkadang saya begitu menginginkan sesuatu, mati-matian mengusahakannya, sampai nyaris gila memikirkannya, namun pada akhirnya, tak ada apapun yang saya dapat kecuali kegilaan itu sendiri. Kalau sudha begitu, yah, mungkin kita akan percaya dengan yang namanya takdir.
Takdir. Konsep itu rasanya begitu menyenangkan. Seandainya saja semuanya bisa diserahkan kepada takdir. Memang bisa. Hanya saja, proses penyerahan itu tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Kata Sartre, manusia dikutuk untuk bebas. Manusia terlahir dengan kebebasan. Yang artinya adalah manusia tidak bisa berlaku seperti batu yang hanya diam menunggu dirinya dihancurkan atau digulingkan, sekeras apapun manusia mencobanya. Karena manusia adalah kebebasan itu sendiri.
Lalu, bagaimana tentang hidup itu sendiri? Saya bukannya akan memberikan definisi ilmiah tentang hidup, atau definisi filosofis tentang kehidupan. Pengetahuan saya terlalu cetek untuk merambah di kedua ranah tersebut. Saya hanya ingin mengatakan tentang apa yang saya lihat, dalam kehidupan yang saya alami. Yang saya dapatkan dari seminar ke seminar. Oh ya, ini semua berpangkal kepada sebuah seminar. Seminar siang hari di sebuah fakultas di kampus, yang untuk mengikutinya saya harus rela membolos salah satu mata kuliah.
Seminar tersebut membahas tentang penyakit membahayakan akibat ‘rasa manis’ yang berlebihan dalam tubuh. Yap, saya sedang membicarakan tentang diabetes. DIABETES! Intinya begini, diabetes bisa diderita oleh siapa saja yang menyukai makanan manis-manis. Disini manis adalah musuh bagi semua orang. Namun mush itu tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Coba bayangkan hidup tanpa rasa manis? Bayangkan hidup tanpa gula? Manis, mungkin salah satu anasir penyusun tubuh manusia, yang jika keberadaannya diabsenkan, tubuh manusia tidak akan sama lagi. Manis adalah musuh sekaligus sahabat. Dari situlah perusahaan besar mulai beradu krestifitas untuk menciptakan produk sugar free, sebagai upaya supaya manusia tetap bisa merasakan manisnya hidup sekaligus mengurangi resiko diabetes. Inti dari produk sugar free adalah hadirnya pemanis-pemanis buatan seperti Aspartan, Sakarin, Siklamat, dan lain sebagainya. Pemanis buatan ini mengandung jauh lebih rendah kalori dibandingkan dengan gula asli. Namun jangan salah. Pemanis buatan selain mengandung kalori yang rendah juga mengandung zat karsogenik, yaitu zat yang dapat memicu sel kanker. Dengan pemanis buatan, diabetes menjauh, tapi kanker mendekat.

Mari kita tarik kesimpulannya dari sini.
‘Hidup Dipenuhi mara bahaya yang terus berkembang biak’
-Anonymous-

Diibaratkan sebuah ruangan, hidup adalah ruangan penuh tanpa udara, berdinding tinggi, tidak bisa ditembus, dan mengerikan. Singkatnya seperti mendifinisikan penjara bastile sebelum dia dihancurkan. Ketika kita melarikan diri dari satu permaalahan, sebenarnya kita sedang menuju kepada permasalahan lain. Ketika orang berusaha mencegah penyakit diabetes dengan mengkonsumsi pemanis buatan, sesungguhnya ia sedang menuju kepada penyakit yang lain, kanker. Hidup ini dikepung. Dikepung oleh mara bahaya tak kasat mata, yang terus berkembang biak selama kehidupan itu masih ada. Bagaimana cara keluar dari kepungan marabahaya itu? Mungkin manusia harus mati.
Permasalahan, segala problem, tidak bisa dipisahkan dari kehidupan itu sendiri.
Kesimpulan yang saya dapat adalah, bahwa hidup adalah sebuah proses mempertahankan diri dari segala gempuran mara bahaya yang terus berlanjut. Jangan berharap untuk bebas, selama masih menginginkan kehidupan itu sendiri. Ini bukan tentang rasa pesimis. Tapi ini adalah sebuah tantangan untuk manusia, seberapa besarkah kemampuan kita untuk bertahan dari segala gempuran bahaya ini. Semakin lama kita bisa bertahan, semakin menang lah kita.